Selasa, Maret 09, 2010

KETIKA...MENCINTAIMU



Ketika...Aku mencintaimu,
Aku tak ingin menatap lama matamu dan tak ingin kamu menatap lama mataku. Karena aku takut mana tahu kamu tiba-tiba punya ilmu membaca mata dan mengetahui bahwa aku berharap bisa dicintai dan mencintaimu sampai tua dan tutup usia.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku jadi banyak mendengarkan daripada berbicara dan kamu menjadi sebaliknya, lebih banyak berbicara dibanding aku. Berusaha tanpa henti mengeluarkan kalimat demi kalimat, padahal aku adalah seseorang yang suka bercerita juga.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku tak bisa menutupi apa yang aku ingin untuk kita. Gambaran itu seakan semakin ingin meminta untuk menjadi suatu realita. Semua cerita di tiap malam menjadi alasan untuk tetap menjadi kita bukan aku dan kamu. Bukankah dua hati menyatu dan itu adalah kita.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku selalu ingin mengerakkan kaki ku seiring dengan langkah kaki mu. Kamu menjadi sekuat itu bukan karena aku tetapi karena kamu ingin selalu tampak hebat dihadapanku, dan akupun menjadi hebat karenanya.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku menjadi takut setiap kali tanganmu ingin meraih tanganku. Bukan karena takut bila genggaman itu terlepas, tetapi karena aku takut tak bisa mengenggamnya dengan kuat dan membuatmu kecewa.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku selalu berpikir ulang, mengulang-ulang untuk berpikir dan begitu kadang-kadang sampai aku binggung, dan terkadang sampai aku tidak tau mau berpikir apalagi. Aku lakukan itu hanya untuk mencari tahu ke dalam hatiku, bertanya dan menjawab sendiri untuk alasan apa aku mencintaimu dengan cara ini.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku ingin selalu terjaga di setiap kantuk yang selalu menyerangku di tiap malam ketika kita sedang berada di ujung telepon. Sekedar merespon dengan deheman-deheman yang menandakan aku masih bisa mendengar semua. Walo terkadang aku selalu meninggalkan mu dan tertidur lebih dulu.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku merasa siap untuk menghabiskan hari tua ku bersamamu. Ketika dengan sabar kamu berkata, ”cepat atau lambat kita akan menikah, aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap untuk itu”. Dengan itu aku menjadi wanita yang paling bahagia karena mu.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku menelan semua pantangan yang aku buat untuk sosok seorang lelaki sebagai pasangan hidupku kelak. Aku tidak suka perokok sedang kamu adalah seseorang yang begitu akrab dengan asap dan nikotin itu. Aku mulai bertanya dari berapa bungkus hingga sampai berapa batang yang sudah habis, dan kamu berusaha keras untuk menjawab jumlah itu sesedikit mungkin.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku mengabaikan keinginan aneh ku yang jatuh cinta pada jambang dan jenggot seorang lelaki karena kamu tidak seperti itu. Kamu menjadi sangat ingin punya jenggot dan tiap hari berusaha mencukurnya hanya ingin aku bahagia. Tiap bertemu kamu selalu memamerkan padaku untuk tiap helainya yang sudah berhasil tumbuh. Sekarang kamu tahu, itu hanya pelengkap saja.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku menjadi seseorang yang tak cepat merasa bosan. Setelah seharian melalui hari bersama di tiap akhir pekan, pulangnya kita saling berkirim pesan, dan sebelum jempol kita menjadi miring semua, suara kita sudah melayang di udara. Aku pikir kita benar-benar sedang mabuk satu sama lain.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku belajar mengkhawatirkan mu bila kamu tidak berada disampingku. Katamu penting untuk menanyakan ”sudah makan ato belum?” dan aku menuruti itu.

Ketika...Aku mecintaimu,
Aku menjadi seseorang yang pencemburu. Cemburu itu tanda cinta, bukan?

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku menjadi seseorang yang pamrih dalam hal ini. Aku meminta balasan atas cintaku kepadamu. Aku tidak mau menghabiskan waktuku mencintai seseorang yang tidak mencintaiku. Aku bukan pengikut aliran cinta buta.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku ingin berada lama di belakangmu, memandangi tiap jengkal punggungmu yang dengan jelas dapat ku lihat ketika aku duduk di kursi belakang scoter mu itu. Aku menciptakan rasa nyamanku sendiri ketika itu agar kamu menjadi nyaman dan tetap bertahan dengan menyebut dirimu adalah hero ku.

Ketika...Aku mencintaimu,
Aku dengan perlahan menceritakan yang baik tentang kamu pada orang-orang terdekatku. Hanya ingin mereka tahu bahwa kamu adalah orang yang hebat dan pantas untukku.

Dan Ketika...Aku mencintaimu, kamu pun mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Dan itu sudah cukup untuk menutup tulisan ini.

2 komentar:

Lina Marliana mengatakan...

Wah.. bakat jadi penumulis nih, bagus banget tulisannya.. :)

Shinta Story mengatakan...

Makasih Mba, hehe...