Senin, Maret 29, 2010

DITINGGAL KAWEEN...


Jangan tertawa dulu ya, walo mungkin judul postingan ini sangat polos. Tapi jangan juga mengeluarkan ekspresi muka yang sedih, ini tidak didramatisir untuk itu kok, hehe.

Sahabat saya datang sambil berlari menghampiri, ingin bercerita. Dia datang di akhir-akhir tahun 2008 yang lalu. Dia membawa cerita tentang ’ditinggal kaween’ ini, dan tentunya saya akan menceritakannya pada kamu. Dia tidak akan marah, tenang saja.

Tentunya setelah pernah merasa diajak barulah bisa dikatakan ditinggal, emm..emm...begitukan?? Ini ni ceritanya, hihi.

Saya sudah lama mengenal dia, bukan orang baru. Sebelum memutuskan untuk menjalin sesuatu yang sangat dekat ini, kami adalah sahabat. Hubungan yang pernah terjadi antara saya dengan dia memang tidak begitu mulus, kami benar-benar terperangkap di dalam skuel yang panjang, melelahkan. Ini cerita setelah kami tidak bersama lagi.

Saya dipertemukan dengan lelaki yang mengesankan, sungguh mengesankan. Bersamanya saya menemukan banyak pelajaran dan menjadi orang ’aneh’, malah terkadang menjadi seseorang yang kejam, saya serius.

”Shin, kamu tidak menjadi binggungkan mendengar cerita saya ini?” Ini semacam benang kusut, tidak ada jalan lain untuk merapikannya kecuali dengan memotongnya, putus.

Dari tiap email yang dikirimnya, dari tiap pesan singkat darinya, dari tiap telepon ketika ia menghubungi saya, mungkin saya pantas merasa tidak bersalah. Bila ada orang yang beranggapan saya menjadi orang ketiga di dalam hubungan baru ’mantan’ pacar saya itu, saya bukan.

Bukan saya yang mencarinya, tapi ia yang mencari saya. Bukan saya yang masuk ke dalam hidupnya, tetapi ia yang berusaha memasukkan saya kedalam hidupnya, jadi saya tidak bersalah ha..ha..ha..ha..(gaya alm. Mbah surip). Tapi ketika dia datang dengan semua rasa yang terlalu sempurna untuk saya, ya jadi luluh juga hati ini, emm.

Terkadang saya berpikir, wanita seperti apa saya ini. Ketika dengan sadar saya semakin hari semakin masuk kedalam cinta segitiga itu, menikmatinya dan menjadi letih sendiri karenanya. Keletihan ini tidak akan sebanding dengan lari marathon yang dulu pernah saya lakukan, membuat dada saya menyempit sewaktu memaksa udara masuk sebanyak2nya, itu lebih dari ini.

Jadi tidak tahu mana yang sedang mempermainkan mana?? Jadi tidak tahu siapa yang mempermainkan siapa?? Jadi ikut-ikutan aneh.

Ketika saya menjadi seseorang yang kejam seperti yang saya rasa, emm..Ketika ia meminta saran saya bagaimana jalannya agar terlepas dari wanita itu dan saya menuntunnya dengan sabar, mengajarinya cara putus ’yang baik’, itu sungguh kejam, bukan, emm..

Ketika saya bilang untuk bisa bersama saya ya harus putus dulu, saya mendapatkan jawaban seperti ini, ”Saya sudah mencoba putus dari wanita itu, tapi ia mengancam akan bunuh diri...!” (Terbayang dalam pikiran saya, dalam sebuah media cetak di kota kami nanti akan ada headline ’seorang wanita bunuh diri setelah diputusin pacarnya’, usut punya usut ini gara-gara ada seorang wanita lain! Alamak, seram, bukan)

Hingga akhirnya saya merasa ini salah, ada yang salah, dan benar-benar salah. Saya mencoba berpikir ulang lagi untuk apa ini semua, saya memutuskan mengalah, jangan tanya masalah cinta, mengalah tidak ada hubungannya dengan cinta ato tidak. Ini jalan aman yang saya pikir harus ditempuh.

Saya hidup dengan hidup saya, saya berkerja, bergaul dengan orang baru, dan itu cukup menghanyutkan saya dengan ritme hidup di ibukota. Jangan mencoba menghubungi saya lagi, tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana saya, itu sudah sangat membantu. Saya bisa menyulam lagi hati yang robek, saya juga bisa berpura-pura lupa untuk semua kenangan yang masih melekat jelas di ingatan, saya sangat bisa.

Dan ketika saya sudah tenang seperti itu, jangan datang lagi. Tetapi mengapa kamu datang lagi...??? Aduhhh....

Akhirnya komunikasi kembali terjalin, setelah berbulan-bulan, kita menjadi sangat dekat kembali. Saya banyak berubah, katamu. Tentu, saya banyak berubah. Tapi kamu tidak. Kamu masih orang yang sama yang saya kenal 5 tahun lalu. Lelaki yang mencintai saya (katamu) tetapi tidak bisa memutuskan untuk bersama saya.

Kemudian tanpa kita sadari, kita membangun kembali pondasi yang sempat rusak. Kita saling bercerita tentang yang kita alami sewaktu terlepas dari masing-masing. Saya jadi tau, bahwa penelepon dan pengirim pesan singkat yang menghantui saya berbulan-bulan itu adalah kerjaannya wanita barumu. Saya jadi tau bahwa ketika kamu rindu saya, kamu dengan sengaja lewat di depan rumah dan merasa terobati dengan itu. Saya jadi tau bahwa ada beberapa kali pulsa nyasar yang saya terima itu adalah dari kamu, dan saya jadi tau bahwa kamu sering sekali memandangi poto saya yang di pasang di friendster. Saya jadi tau itu semua, setelah perbincangan yang alot itu saya kemudikan dengan baik.

Hingga pada suatu kali perbicangan telepon kita dan kamu mengatakan ini,
”Menikahlah denganku secepat yang mungkin bisa kita lakukan, pacarku meminta aku menikahinya”.

”Nah, loooo!!!” Bagaimana bisa? Bisa katamu, dan kamu bersungguh-sungguh dengan kata-kata mu itu. Kali ini kamu berjalan sendiri, merasa tau langkah apa yang mesti ditempuh. Bersabarlah, katamu.

Sampai akhirnya dengan gembiranya kamu menelpon dan mengatakan bahwa semuanya sudah beres, kita bisa berjalan bersama sekarang. Saat itu saya tidak sedikitpun bahagia, malah saya sangat mengkhawatirkan wanita itu.

Dan kekhawatiran saya terbukti, kamu menelpon untuk menceritakan bahwa wanita itu tidak mau makan, tidak mau apa-apa, kecuali hanya ingin kamu kembali padanya. Kita sama-sama terdiam, tidak akan ada yang mengerti dengan kisah kita. Kita harus berhenti.

Dan kemudian, menikah juga akhirnya kamu, bukan dengan saya !!
Ditinggal kaween, uhuk..uhuk..:D

---
”Shin, cerita saya sudah selesai!” any comment?
”Ya ya...’hubungan’ tidak cukup hanya dengan cinta...! ”Semua itu adalah kesempatan”.

Akhir kata...
Ketika kesempatan bukan untuk kamu, jangan memaksa. Semua akan indah pada waktunya, bukan. Eittsss, tapi jangan ’ngancam bunuh diri’ donk. (dingdong :D)



-asd-

5 komentar:

Lina Marliana mengatakan...

Ada rahasia Allah dibalik semua yang terjadi.. Pasti Dia merencanakan yang terbaik buatmu.. Sabar aja yah..
Salam kenal.. :)

Tika Sumadiyono mengatakan...

Buat Shinta,

Mengalah bukan berarti kalah,tapi mengalah untuk Menang.

Sabar yaa...:)

Shinta Story mengatakan...

Mba Lina...setuju. Semua terjadi sesuai skenario Allah,kita diberikan kekuatan untuk mampu menjalaninya :)
Salam Kenal kembali Mba, senang dengan kunjungan mba ke blog saya, hehe...

Mba Tika...iya neh, hehe. kira-kira kita punya kesamaan ga neh kali ini, hihi

Tika Sumadiyono mengatakan...

Hahahaha, bicara kesamaan..
"iya samma" aku juga pernah di labrak orang. persoalan nya sama juga karena soal lelaki. hahaha... kok yah sama toooh...:P

tapi bedanya, lelaki yaang aku kenal menikah denganku sampai sekarang.

hanya share saja, saat di labrak wanita yang menyukai kekasihku, aku santai saja, "ga salah kok" kan yang suka lakinya jadi yah cuek, hehehe...

btw, shin, komentar "anymaous" nya kenapa di hapus... :)

Shinta Story mengatakan...

Mba Tika..wah, benar rasanya neh, ada bagian cerita yang kita alami juga pernah dialami oleh seseorang di belahan sana. Ya seperti kita ini, punya bagian2 cerita yang mungkin "harus" dilalui oleh seorang yang terlahir di tanggal yang sama, hihihi...

Iya Mba, karena tidak ingin merubah penilaian saya pada orang yang menulis itu. Saya tau orangnya, dan tidak ingin menanam lebih dalam lagi untuk apa yang telah dia lakukan. btw, salah ya??