Jumat, Desember 11, 2009

Aku adalah Aku...

Bukan manusia yang bisa bersikap adil karena selalu ada yang merasa dirugikan olehku, bukan manusia yang selalu kuat berjalan menjalani hidup karena aku juga sering terjatuh, bukan manusia yang mampu menilai oranglain karena ternyata aku selalu salah dalam hal ini.

Bukan manusia yang suka akan sesuatu lantas dengan sekuat tenaga mampu mempertahankannya karena aku punya keterbatasan, bukan manusia yang mencintai sesuatu dan berharap untuk balik dicintai karena bagiku tidak ada yang bisa memaksa sesuatu berlaku sama seperti apa yang telah kita perbuat. Yang ada dalam pikiranku, jangan memberi bila berharap sangat untuk mendapatkan balasan”.

Bukan manusia yang memberi segala hidup hanya untuk sesuatu atau seseorang karena buatku kita tidak diberi kemampuan untuk itu;yang kita punya hanya kemampuan untuk merespon, bukan manusia yang selalu membuat oranglain tersenyum karena kenyataannya beberapa orang malah murung ketika aku berada didekatnya, bukan manusia yang tidak pernah bersalah karena ada banyak orang yang sampai hari ini masih menutut permintaan maafku, bukan manusia yang belajar untuk mengerti karena aku mulai dengan memahami.

Bukan manusia yang latah karena aku lebih memilih sesuatu yang tidak banyak disukai oranglain, bukan manusia yang suka keramaian karena banyak kepura-puraan tercipta disana.

Bukan manusia yang balik menyerang ketika ada orang yang membabi buta menyakiti karena bagiku kesakitan tidak akan sembuh bila dibalas dengan kesakitan; aku belajar menjadi sisi lain dari apa yang oranglain rasakan, bukan manusia yang lemah karena aku merasa kuat ditengah orang-orang yang lemah, bukan manusia dengan segala kesempurnaan tapi manusia dengan segala keterbatasan, bukan juga manusia yang mencari kesempurnaan tapi manusia yang menginginkan keseimbangan.

”Dan sebelum itu, seperti ini...”

Aku dulu orang yang suka memaksakan kehendak, tidak mau mendengar kata-kata selain kataku sendiri, tidak patuh, tidak sabaran, emosional, tidak pernah mau mencoba memahami sesuatu.

Aku dulu adalah orang yang benar-benar siap bertempur menghadapi apapun, siap lari bila harus berlari, siap maju walau sebenarnya sudah tidak ada kekuatan untuk maju, orang yang keras kepala, yang hanya memikirkan kesenangan sendiri, tidak mau perduli dengan sekelilingku, tidak pernah mau minta maaf walau jelas-jelas aku yang bersalah.

Aku dengan segala ke-akuanku, dengan segala keegoisanku, dengan segala sifat-sifat yang terus tumbuh seiring terus bertumbuhnya aku. Aku dulu adalah orang dengan segala ke-komplitan sifat yang mau menang sendiri, yang harus mendapatkan sesuatu pada saat aku ingin sesuatu; tidak mau menunggu, tidak mau tahu apa alasannya; orang yang sulit dimengerti, orang yang selalu berubah; tidak tahu berubah karena alasan apa; berubah seperti yang aku mau.

Aku yang suka lari dari rumah bila aku tidak suka akan sesuatu, selalu menjadi beban pikiran orangtua, aku yang durhaka yang tidak pernah mendengarkan nasihat-nasihat, itulah aku.

”Dan setelah itu, seperti ini...”

Aku yang sekarang mulai mencoba memahami kehidupan, mulai berjalan meniti jalan-jalan punyaku, mulai bersandar di tempat-tempat yang menenangkan hati, mulai mencoba berdiri diatas kaki ku, mulai memperbaiki diri, memulai semuanya dengan berdiri ditepian ini, mencoba merangkai mimpi menjadi seperti apa yang aku pikirkan.

Aku hampir tak pernah ingat bagaimana aku dulu setelah banyak yang bisa aku ubah sekarang.

Mengecil, ya mungkin otakku mengecil sehingga tidak ingat lagi bagaimana aku dulu. Hampir semua tentangku aku dengar dari orang-orang dekatku, bukan dari relaksasi pikiranku yang terdalam.

Yang aku ingat hanya satu, aku adalah aku.



-asd-

2 komentar:

Kabasaran Soultan mengatakan...

Sebuah kontemplasi diri yang jujur...

nice sharing.

Shinta mengatakan...

makasih kang..hehe