Senin, Desember 28, 2009

KOCAK...




Kali ini sahabat saya punya cerita lucu, ketika masuk lubang, tersenyum saja.
Dengan segelas cappucino panas dan si gery, saya ingin menceritakannya kembali, seperti ini kira-kira.

Sebenarnya tidak terlalu serius dengan ini, tapi sungguh gara-gara ini saya jadi malu dengan kepolosan sendiri. Hari ini, setelah satu hari ditinggal dirumah sendirian, saya mendapatkan waktu yang cukup banyak untuk bersama beberapa sahabat.
Pagi sekali deringan telepon genggam sudah berbunyi, adalah bren yang menjadi alarm untuk mengingatkan bahwa hari ini kami akan berkunjung kerumah salah satu sahabat yang baru melahirkan ponakan pertama kami.

Dan dimulailah perjalanan hari ini dari sini!

Siap, setelah lengkap personil yang akan berangkat, kami pun melaju ke tempat tujuan, target pertama. Adalah saya yang berada di balik kemudi, ada Rere yang berada disamping sebagai navigasi, ada Juwi dibelakang sebagai pemandu sorak (hehe, merasa binggung mau menjadikanmu apa), dan ada Bren yang juga dibelakang sebagai pendamping pemandu sorak (hehe..), harusnya ada satu lagi, tetapi kami kurang beruntung, pemandu sorak yang ini sudah menandatangani kontrak dengan label lain untuk menjadi komandan beres-beres villa (hehe..).

Target pertama sudah selesai, mulai melanjutkan dengan targer kedua yang hampir sama, menjenguk adik sahabat yang sakit.

Tap..tap..tap.., acara sudah berkurang satu persatu. Dan intinya ada disini sekarang, dimulailah acara dadakan itu.
Saya kepingin sekali makan durian, dan itu akhirnya terwujud juga. Dengan rayuan maut, kami bisa membeli durian dengan harga banting-bantingan, sungguh sulit melayani pembeli cewek-cewek ini, begitu kata si penjual. Dan sengaja kami tinggalkan satu untuk komandan villa, hehe.

Acara masih berlangsung tetapi kami dipaksa kekurangan personil, pendamping pemandu sorak, diantar pulang dengan permintaan sendiri. Ya sudah, tapi di tengah jalan kami mendapat personil baru lagi, adalah Tanea sebagai pengganti pendamping pemandu sorak, lebih gokil lagi lengkap dengan tulalitnya, hehe.

Sungguh tidak ada tujuan yang pasti sebenarnya, hanya putar-putar yang tidak jelas. Sampai akhirnya setelah kampung tengah selesai di isi, kami menemukan ide untuk lanjut dengan memperdengarkan suara tanpa nada ini. Tidak ada yang tidak setuju, dengan satu syarat, harus ini dulu baru itu.

Disinilah lubangnya (suatu tempat yang tidak begitu akrab dengan saya). Dengan lengak-lengok, kami masuk kesebuah tempat kecantikan, kita beri nama salon, ya padahal emang itu namanya SALON, hehe.

”Ada yang bisa dibantu?” (kira-kira seperti itu awal sapaannya)
”Ya, bisa semir?” ujar pemandu sorak (yang membuatkan lubang itu buat kami)
”Bisa! Mau warna apa?” Jawab wanita itu.
”Coklat kemerah-merahan, bisa?” Tapi saya baru 2 bulan ini semir hitam, timpal sang pemandu sorak.
”Oh, ga bisa!” Mendengar jawaban tadi dengan repleksnya dia langsung putar badan, tanda tidak jadi. Kami yang berada dibelakang hanya menurut saja dengan patuh.

Kemudian, merasa masih perlu mencari tempat yang lain, kami masuk lagi ke tempat yang tepat berada di sebelahnya.

Baru saja pintu di dorong, ada wanita separuh baya menyambut kamu, ”Ya, mau apa?” sambut wanita di dalam itu dengan ramah.

Dan kembali pertanyaan yang sama dilontarkan oleh pemandu sorak,hmm..”Bisa ga ce?”
Dan jawaban yang sama pula yang didapatkannya. ”ga bisa, Mbak”.

Akhirnya dengan kesepakatan semula kami sudah duduk di kursi panas masing-masing, udah creambath saja yuk..!” ujar sang navigasi. Tetapi minus sang pemandu sorak, pulang, karena yang ia inginkan tidak bisa di layani.
”Ya udah, oke. Kita nyantai dulu, pikir saya”.

Ini bukan pengalaman pertama buat saya, pernah tapi tidak sering, sangking tidak seringnya ya saya jadi tidak begitu faham. Apa yang ditawarkan pada saya dari pelayanan tempat itu, ya di iyakan saja.

”Mbak ini aja ya, Mau pake ini, oh iya ini enak loh, pake ya...?” ujar salah seorang yang siap melayani saya ketika itu. Sambil mengangguk (beda tipis arti anggukan ini, antara mau dengan kebingungan, hehe), ”Iya, ce!

Tap..tap..tap.., siap sudah, sudah siap. Ini waktunya beranjak dan membayar.
”Berapa, ce?” dengan wajah polos. Tit..Tit..Tit, sekian! ”Apahhhh....” (Cuma sanggup dalam hati saja), dengan langkah gontai keluar sambil bengong. Rere dan Tanea juga ikut diam sejenak, dan akhirnya meledak juga kata-kata dari mulut mereka,

”Kok mahal banget yaaaaa.....”!!!! sambil tertawa ngakak.

Saya yang juga kegelian ikutan ngakak, sambil bilang, ”Hey, kalian tahu ga, itukan duit buat makan, saya menggadis dirumah sendirian”. Dan kami terus tertawa walo sudah beranjak dari tempat itu.

Begitulah ceritanya, dan..
Kadang sekali-sekali memang perlu untuk berkunjung ke tempat seperti itu, agar tahu, untuk sekedar cuma ingin mencoba. Sahabat saya sangat mengerti apa yang mereka anjurkan pada saya, mungkin awalnya tidak mudah, tetapi setelah itu menjadi terbiasa.

Untuk yang membuatkan lubang malam itu, terimakasih. Mungkin perlu pertanggung jawabannya, tetapi itu Cuma main-main saja, Hehe.


*karena merasa bersalah pada kami malam itu, juwi benar-benar mempertanggung jawabkan semuanya dengan baik. Ini dulu baru itu, terbayar lunas, keesokkannya kami berada di tempat target selanjutnya, dan terdengarlah suara-suara tanpa nada itu, hehe*



-asd-

3 komentar:

Kabasaran Soultan mengatakan...

hi-hi-hi
Bisa aja nih

Shinta Story mengatakan...

iya kang, jadi malu :D

reza mengatakan...

I have been your followers, so please follow me back! thanks!