Senin, Desember 28, 2009

Kisah Cinta...[part-3]





Tiba-tiba sahabat saya datang menghampiri, hari sudah terlalu larut, tetapi ia tidak bisa menunggu sampai besok untuk menceritakannya kepada saya.

“Baiklah! Saya akan mendengarkan semuanya, tetapi ijinkan saya membuat segelas cappucinno terlebih dahulu”. Setelah itu luapkan saja semua, jangan sampe berkembang jadi bisul, Timpal saya.

Dan seperti ini ceritanya!

Mulut ini bergerak sendiri, ingin bercerita tentang dia –seseorang yang dicinta- yang menambah panjang cerita dalam perjalanan hidup. Semua berjalan seperti yang bisa kami rangkai. Ketika semua menjadi indah di atas ketidakindahan yang kami punyai, ketika sesuatu yang pantas dilalui dengan ketidakpantasan yang kami miliki, itu sangat berkesan buat Saya, mungkin dia juga pasti merasakannya.

Shinta, pernahkah kamu kecewa..?? dan saya sedang kecewa sekarang. Ternyata hampir tidak ada bedanya antara kecewa dan jatuh hati, apa kamu juga begitu? Yang saya rasakan sekarang, jantung saya berdebar sangat kencang, sama kencangnya waktu sedang jatuh cinta, barangkali ketukannya sama persis tiga per tiga seperti komando dirijen di depan kelas ketika memimpin kita menyanyikan lagu kemerdekaan yang membuat semangat kita berkobar dan dada berdegup kencang.

Saya beberapa bulan ini telah berjalan bersama seseorang, kamu bisa dengan bebas mengartikan ‘berjalan’ yang saya katakan ini. Tetapi belakangan saya sadar, tidak mengetahui dengan baik tentang seseorang yang ingin berjalan bersama itu juga tidak baik, ya sangat tidak baik.

Setiap kita punya masa lalu, tidak terkecuali itu baik ato tidak, yang masih tersisa ato tidak, yang masih berbekas ato tidak, yang masih hangat ato tidak. Semua itu tetap masa lalu, tapi tidak bisa terlepas secara utuh dari diri kita, tidak juga saya, mungkin kamu juga. Jadi disini pangkal bala nya.

Setelah beberapa bulan yang saya katakan itu, semua berjalan baik, hampir tidak ada masalah, ada tapi itu jelas masalah yang dibuat-buat sendiri saja. Hingga sampai suatu hari saya baru sadar bahwa disini letak masalahnya.

Dengan mengabaikan masa lalu ternyata tidak baik untuk memulai sesuatu, apapun itu, jadikan semuanya selesai dulu hingga hanya pantas untuk di kenang bukan di ulang. Harusnya bertanya bila tak tahu, tidak seperti saya, hanya ingin menerima orang yang ada di depan mata saja tanpa mau mengorek masa lalunya. Mungkin tidak penting, tetapi mungkin menjadi penting kadang kala.

Dia sendirian kelihatannya tetapi ternyata masih dibayang-bayangi oleh masa lalunya dan itu benar-benar tidak benar buat saya. Ada penumpang gelap, yang awalnya samar-samar tetapi kini menjadi semakin jelas, karena ia menampakkan dirinya di depan saya.

Saya merasa di awal berjalannya kami, tentunya tidak ada yang salah. Saya bebas dan dia juga bebas. Bebasnya saya cuma saya yang tahu dan begitu juga dia dengan bebasnya dia cuma dia yang tahu, saya tidak.

Tiba-tiba yang samar semakin hari semakin jelas, masa lalunya memintanya untuk kembali, berjalan bersama. Masa lalunya meminta dengan tegas pada saya untuk mengembalikan dia padanya. Dengan ini saya menjadi kecewa, saya hanya terdiam, terlihat terdiam tetapi sungguh hati saya sedang bergelut mencari apa yang harus saya lakukan dengan ini.

Secara sadar harusnya tidaklah baik bila ada penumpang gelap, tidak baik buat siapapun. Saya harusnya tidak melunak ketika dia meminta saya untuk bertahan. Dengan itu Saya menjadi buta, menjadi egois, dan menjadi seseorang yang bukan Saya, mengabaikan ada jiwa yang tersakiti dengan menyatunya kami. Karena jelas dengan kebutaan, keegoisan, dan menjadi aneh itu tidak membuat Saya bahagia.

Lagi, saya tidak punya ide lain selain merelakan, tidak punya referensi lain yang harus dilakukan selain itu. Yang saya relakan berharap saya tidak merelakannya, tapi sungguh menjadi di antara, saya tidak bisa. Saya tidak mau duduk di kursi serap, dan tidak ingin menyediakan kursi serap untuk seseorang, perjalanan akan sangat jauh sungguh perlu kursi yang nyaman untuk bisa tetap bertahan dalam perjalanan kelak hingga bisa sampai pada tujuan.

Mungkin kedengarannya ini mudah, tapi sungguh ini tidak semudah yang terpikirkan. Kamu mungkin akan merasa sangat kehilangan bila melakukan seperti yang saya lakukan, tentunya saya merasakan itu juga. Kamu mungkin merasa ada bagian yang hilang dari puzzle yang hampir terbentuk, saya juga begitu, ada yang hilang.

Kamu mungkin akan merasakan sesak ketika menahan rindu, saya juga begitu, tapi itu rindu yang terlarang dan jangan diteruskan. Kamu mungkin menjadi kapok dengan itu semua, saya juga, tetapi siapa tahu nanti bakal ketemu percis sama dengan yang ini, Apa harus merelakan lagi..??? dan ketika saya sampai pada pertanyaan ini, lagi, saya cuma bisa diam, apa benar apa salah, yang jelas salah tidak benar dan yang benar tidak mutlak benar. Entahlah!

Kali ini kesempatan bukan untuk saya, mungkin, tetapi saya diberi kesempatan membantu oranglain untuk menghargai apa yang pernah mereka miliki dan jangan mengabaikannya lagi.

Dan…sudah cukup dengan ini.
“Terimakasih, shinta. Saya menjadi lega karena sudah berbagi denganmu, cukup untuk saat ini, itu yang sangat penting, menjadi lega benar-benar lega”. Dan maaf, cappuccino mu terminum, uppss! sungguh jadi haus setelah bercerita…(dingdong..:D)




-asd-

Tidak ada komentar: