Kamis, Mei 28, 2009

Kisah Kehilangan

Saya ikut terhanyut dalam sebuah cerita tentang kehilangan. Kehilangan yang saya tahu itu banyak, ada kehilangan sesuatu yang berharga maupun sampai pada kehilangan waktu di dunia alias mati. Terkadang kita hanyut dalam sebuah cerita yang kita anggap mewakili semua rasa yang ada di hati, baik lara ataupun bahagia. Tapi saya yakin semua rasa itu tidak sepenuhnya mewakil sebuah rasa kehilangan.

Walaupun kehilangan kedengarannya menyedihkan, tapi tidak sedikit orang yang bisa tertawa saat ia merasa kehilangan. Orang yang kehilangan kesialannya akan merasa bahagia, karena menganggap esok hari dia tidak akan merasa sial lagi, tidak heran bila iapun bisa tersenyum malah terkadang bisa sampai tertawa. Lain halnya bila ada orang yang sedang kehilangan seseorang yang di hidupnya sangat berarti, ia akan melamun sepanjang hari mengenang saat-saat kebersamaan itu dan terkadang sambil mengeluarkan airmata, ada juga yang sampai meraung-raung menangis bila ia rasa itu perlu. Tapi kembali lagi sampai dimanakah batas rasa kehilangan itu, tidak ada kehilangan yang tidak tersembuhkan, bukan.

Ngomong-ngomong kehilangan, tentunya saya pernah mengalami hal tersebut.

Saya pernah kehilangan Sahabat (walaupun saya temukan namun tidak bisa saya temui), kehilangan teman bermain (ia harus berpulang dulu dari saya menghadap Ilahi), kehilangan teman baik (seseorang yang bukan saya namakan kekasih), kehilangan benda kesayangan (hp yang saya beli dari tabungan pekerjaan pertama saya), kehilangan musuh yang selalu meneror melalui hp. Diantara kehilangan yang saya ungkapkan itu hanya kehilangan yang terakhir yang menjadi kehilangan yang paling bahagia buat saya. hehe...

Saya yakin kehilangan itu bisa sembuh karena saya alami itu. Tak banyak orang yang bisa berkata hal yang serupa kalau belum pernah merasakannya sendiri. Seperti anda, saya pun merasa sakit waktu merasakan sesuatu harus/dipaksa hilang dari saya. Karena hati saya bukan batu, saya merasa sedih bila sesuatu itu harus di renggut paksa dari saya. Mungkin dengan alasan belum siap atau apalah namanya. Tapi itu tetap saja sakit.

Saya katakan pernah kehilangan sahabat, tentunya saya malu harus mengatakan ini, bagaimana bisa kehilangan sahabat. Tapi ya itulah yang saya alami. Sahabat saya, sebut saja dewi namanya, hampir semua momen yang masih tersimpan di kepala, ada indah dan tentunya ada yang sedih, saya lewati bersamanya. Walau terlalu naif bila saya mengatakan, saya tidak bersalah, tapi nyatanya dimatanya saya bersalah, jadi saya bisa apa. Bukan saya salah atau siapa yang salah yang saya sesalkan, tetapi mengapa ini terjadi sampai hari ini, itu yang sangat saya sesalkan. Sama seperti kalian yang juga punya sahabat terbaik, begitulah ia dimata saya. Hampir tidak ada yang tahu mengapa perang dingin ini masih kami lakoni, dan tidak sedikit teman-teman yang masih menanyakan kabarnya pada saya, dengan pelan saya menjawab "Saya kurang tahu kabarnya sekarang". Walhasil jawaban tadi hanya mengundang pertanyaan balik ke saya, jadi serba salah. Belakangan saya menemukan dia di salah satu situs pertemanan, dan lucunya karena memang kami berasal dari satu sekolah sudah barang tentu teman-teman kamipun sama, semua dia ett menjadi temannya kecuali saya. Kanak-kanak sekali memang, ya dia tidak berubah sedikitpun.

Saya kehilangan teman bermain, walau tidak selalu dengannya tetapi hampir setiap hang-out bareng teman-teman dan merayakan tahun baru dialah yang selalu mengajak saya keluar, sebut saja namanya adji, almarhum harus lebih dulu dari saya menghadap Ilahi dalam sebuah kecelakaan motor kira-kira 3 minggu sebelum UAN tahun 2002 diadakan. Yang saya ingat, kabar duka itu saya terima via telpon dari salah satu teman sekolah, yang juga teman almarhum. Dalam percakapan itu saya sangat terkejut, bukan karena mendadak (toh, kita tidak pernah tahu siapa yang akan berangkat duluan, iya kan), tapi karena saya langsung teringat kejadian siang tadi disekolah. Sewaktu jam olahraga disekolah hari itu, saya sempat menegurnya untuk bisa berbaris rapi, jangan kemajuan berdirinya, itu yang saya katakan. Saya pun masih ingat jawaban apa yang ia berikan menanggapi ucapan saya itu, "biarlah, de, biar lain daripada yang lain." itulah jawabannya. Belum lagi sewaktu jam olahraga selesai saya sempat berpapasan dan kembali mengkritiknya, "Ji, anehnya cara berpakaianmu, kok diatas pake baju seragam tapi bawahannya masih celana traning seh, ujarku." lagi-lagi sambil tertawa dia hanya menjawab, "iya, de ini model baru, katanya." Kalau ingat itu, saya sungguh tak percaya kalau itu adalah percakapan terakhir yang terjadi antara saya dan dia. Saya berserta teman-teman sungguh sangat kehilangan sosok yang selalu tersenyum itu.
memang jalan kita ke depan tidak dalam pengetahuan kita, yang kita tahu hanya menjalaninya. seperti juga kematian, hari ini kita masih bersama orang-orang dekat kita, tapi mungkin nanti kita tidak lagi bersama mereka..kalo bukan kita yang dulu pergi, ya mereka, kita sama- sama akan menghadapinya juga.

Saya kehilangan teman baik, waktu saya pikir ini tidak pantas untuk dipublikasikan, tapi akhirnya saya tahu sekarang harus bagaimana. sebut saja namanya rama, lelaki terbaik di waktu yang tidak tepat, yang pernah singgah di hati saya. Pertemanan yang sangat akrab diantara kami membuatnya jatuh cinta dan menyimpan 'rasa' yang tak biasa ada buat saya sahabatnya. Tidak aneh memang, dua orang manusia berlawanan jenis yang dibalut oleh ikatan persahabatan akhirnya harus menodai ikatan itu menjadi sebuah kisah cinta, tapi buat saya itu sungguh aneh. Bukan karena saya tertipu dengan persahabatan yang kami bina tetapi karena pada waktu itu saya masih menjalin kisah cinta dengan oranglain, walaupun kisah kasih itu sedang berada dijurang perpisahan. Jauh perjalanan yang sama-sama kami tempuh hingga akhirnya kami benar-benar menikmati perjalanan yang dinamakan perjalanan cinta itu, kebersamaan itu walau tidak semuanya indah dan tidak semuanya sedih, dan ada putus sambungnya, seperti yang juga terjadi pada pasangan lain, tapi sungguh saya menjadi dewasa memiliki semua pengalaman itu.
Pada bagiam Kehilangan ini saya bisa lebih banyak menulis karena memang perjalanan itu tidaklah singkat, hanya keputusan akhir kami lah yang terlalu singkat untuk benar-benar saling melepaskan diri dari masing-masing. Kalau ditanya apakah saya sakit dengan kehilangan itu, saya jawab iya. Malahan tidak mudah bagi saya untuk benar-benar berbesar hati melepaskan dan dilepaskan. Tapi akhirnya saya sadar, semuanya bisa disembuhkan, sekalipun dia fitnahkan saya tentang sesuatu yang dia pun tahu itu tidaklah benar.

Saya kehilangan barang kesayangan, sebut saja itu Hp seri N73, barang yang saya beli dari penghasilan pekerjaan pertama saya selama 1 tahun. Walau bagi sebagian orang itu hanyalah Hp dengan seri biasa, tapi bagi saya itulah Hp kebanggaan yang mampu dibeli saat itu. Saya boleh berbangga diri ditengah teman-teman yang masih merengek minta di belikan Hp kepada orangtuanya. Tapi ternyata kebanggan itu tidak lama, dalam suatu keteledoran akhirnya Hp itu pun harus berpindah tangan karena telah di curi orang. Kesal memang, tapi saya bisa apa, hanya ngedumel, tapi mau sampai kapan ngedumel terus. Saya harus ikhlaskan itu, sambil berharap bisa mendapat ganti yang lebih baik, hehe...

terakhir, ini adalah kehilangan yang bukan buat saya saja kehilangan yang berbahagia tapi juga anda bila pernah merasakannya. saya masukkan ini ke kelompok kehilangan karena memang saya kehilangan, tapi saya bisa mengatakan kehilangan ini sambil tersenyum loh..hehe..
Tidak ada yang senang di teror,bukan. iya, saya mewakili jawaban kalian yang membaca posting ini. Mungkin ada hikmahnya juga saya kehilangan Hp di beberapa waktu yang lalu ,(nah, bisa-bisanya saya bilang begini, padahal betapa ngedumelnya saya waktu kehilangan itu terjadi), walau sebenarnya bisa saja saya kembali memakai No. Hp yang lama tapi buat saya ini menjadi awal saya harus melepaskan semua. Saya harus menjadi baru, dalam artian saya sendiri, walau akhirnya saya harus mengulang bertanya No. Hp teman-teman satu persatu, tapi saya merasa ini cukup menarik.

akhirnya... Saya bisa bilang semua itu ada hikmahnya,
Saya merasa baru hidup kemarin, dengan sisa-sisa hati yang tidak bisa dikatakan baru, tetapi saya merasakan indahnya menghirup udara pagi di saat membuka mata, merasa senangnya punya sahabat baru, punya teman bermain yang baru, punya Hp yang baru, dan punya 'teman baik' yang baru...

Seperti anda, saya pun sakit bila di hadapan dengan "Kehilangan"...






2 komentar:

Johan Bhimo Sukoco mengatakan...

Wah, ceritanya sama kayak kisahku nih,kawan.
-JBS-

Johan Bhimo Sukoco mengatakan...

Wah, ceritanya sama kayak kisahku nih,kawan.
-JBS-